Manado, Makasiow.com – Kebijakan dagang terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung ekonomi global. Pada (2/4/2025), Trump mengumumkan tarif dasar 10 persen untuk seluruh impor ke AS, dengan tambahan tarif lebih tinggi untuk 60 negara—Indonesia termasuk di antaranya.
Bagi Indonesia, kabar ini bukan sekadar statistik dalam laporan ekonomi. Tarif tambahan sebesar 32 persen yang akan mulai berlaku pada (9/4) mendatang, menempatkan berbagai komoditas ekspor unggulan seperti kopi, kakao, dan alas kaki dalam posisi terjepit di pasar Amerika.
“Dengan tarif setinggi itu, margin produsen kita bisa habis, dan daya saing menurun drastis,” ujar seorang analis perdagangan luar negeri di Jakarta. Para pelaku usaha mulai menghitung ulang kontrak ekspor dan mempertimbangkan alternatif pasar di tengah ketidakpastian ini.
Pemerintah Indonesia sejatinya telah mengupayakan jalur diplomasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sejak Januari lalu telah mengusulkan mekanisme kerja sama ekonomi bilateral untuk meredakan beban tarif. Namun, hingga kini, belum ada titik terang dari Gedung Putih.
Dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan Indonesia. Negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam (46 persen), Myanmar (44 persen), dan Kamboja (49 persen) juga masuk dalam daftar negara dengan tarif tinggi. Ketiganya menyampaikan keprihatinan serupa atas potensi perlambatan ekonomi dan terganggunya rantai pasok regional.
Di dalam negeri AS sendiri, berbagai ekonom mulai menyuarakan kritik terhadap kebijakan ini. Mereka menilai langkah tersebut dapat memicu inflasi, membebani konsumen, dan memperburuk iklim investasi. Meski Gedung Putih mengklaim tujuannya adalah mendorong manufaktur domestik dan membuka pasar global, banyak pihak menilai pendekatan ini kontraproduktif di era ekonomi terbuka.
Dalam menghadapi tantangan ini, Indonesia didorong untuk segera menata ulang strategi ekspor. Diversifikasi pasar menjadi prioritas, termasuk memperkuat posisi di Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, dan kerja sama regional pun menjadi agenda penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar raksasa seperti Amerika Serikat.
Meski bukan pertama kali diterpa badai dagang, kebijakan tarif AS kali ini menjadi pengingat penting bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya dibangun dari dalam, tetapi juga dari cara Indonesia memposisikan diri di pentas global yang terus berubah.















