Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Sayur Pangi Dicintai dari Dapur Minahasa

Manado, Makasiow.com – Di dapur-dapur tua di lereng gunung Minahasa, wangi khas yang pahit menggantung di udara saat periuk tanah mengepul pelan. Di dalamnya, daun pangi direbus perlahan, goraka, bawang merah, bawang putih, dan cabai. Terkadang, ikan cakalang diasap atau potongan daging babi ikut masuk, memberi rasa gurih pada hidangan yang secara turun-temurun disebut: sayur pangi.

Bagi masyarakat Minahasa, sayur ini lebih dari sekadar masakan. Ia adalah warisan. Daun pangi yang berasal dari pohon Pangium edule, atau dikenal pula dengan nama kluwak di Jawa dan kepayang di Sumatera, adalah tanaman liar yang beracun. Mengandung asam sianida, daunnya tak bisa langsung dimakan. Butuh pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi untuk mengolahnya. Daun harus direndam berjam-jam dalam air garam, atau direbus berulang kali, sebelum bisa dimasak. Salah sedikit, racunnya bisa mematikan.

Namun, seperti cinta pada rasa kopi pahit, orang Minahasa justru mengagumi rasa getir dari pangi. Di lidah yang sudah terbiasa, pahit itu justru dianggap nikmat. “Rasa paling khas dari Minahasa, itu pangi,” ujar Lea Karundeng, seorang ibu rumah tangga di Sonder yang sudah puluhan tahun memasak hidangan ini. Ia tertawa saat ditanya kenapa tetap memasak pangi meski prosesnya panjang. “Karena ini bukan cuma makanan. Ini cara kami mengingat rumah.”

Meski beracun jika mentah, daun pangi juga menyimpan beragam khasiat. Sejumlah penelitian menunjukkan pangi kaya flavonoid dan antioksidan. Kandungan zat besi, fosfor, serta senyawa antibakteri menjadikannya bahan potensial untuk pengobatan alami. Di beberapa desa, sayur pangi dipercaya membantu menurunkan demam dan memperkuat stamina tubuh. Bagi generasi lama, pangi adalah obat tradisional yang menyamar sebagai makanan.

Sayur pangi biasanya disajikan dengan nasi panas dan lauk pedas seperti ikan bakar atau ayam rica. Rasanya kuat, khas, dan tidak kompromi. Tidak semua lidah cocok. Tapi bagi yang paham, sayur ini seperti lagu lama yang terus dirindukan.

Namun zaman berubah. Generasi muda kini lebih mengenal pasta dan ayam geprek ketimbang rebusan daun pangi. Di kota-kota besar, nama sayur ini bahkan asing. Padahal, di balik rasa getirnya, pangi menyimpan pelajaran tentang bagaimana masyarakat Minahasa bertahan dengan alam. Bagaimana mereka mengolah racun menjadi kekuatan, dan pahit menjadi bagian dari identitas.

Di tengah derasnya makanan cepat saji, sayur pangi berdiri seperti puisi dalam bahasa lokal. Sunyi, rumit, dan dalam. Ia mungkin tidak hadir di restoran bintang lima, tetapi di rumah-rumah tua Minahasa, pangi tetap dimasak. Dihidangkan. Disyukuri. Sebagai bukti bahwa cinta pada yang pahit tidak pernah benar-benar hilang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *