Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Mengapa Pengangguran Bertambah di Tengah Ekonomi yang Tumbuh

Manado, Makasiow.com – Ekonomi Indonesia tengah bergerak maju. Statistik makro menunjukkan pertumbuhan positif. Konsumsi rumah tangga tetap kuat, investasi perlahan menggeliat, dan neraca perdagangan masih menunjukkan surplus. Namun, di balik angka-angka yang menggembirakan itu, ada satu data yang perlu dicermati dengan jernih: jumlah pengangguran meningkat.

Pada Februari 2024, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran nasional mencapai 7,28 juta jiwa. Naik dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini, jika dilihat sepintas, mungkin tampak kontradiktif dengan geliat ekonomi yang positif. Namun, seperti kebanyakan dinamika sosial-ekonomi, jawabannya tidak sesederhana itu.

Ada sejumlah faktor yang menjelaskan mengapa angkatan kerja semakin banyak, tetapi lapangan kerja tak bertumbuh secepatnya. Pertama, adalah soal kapasitas penyerapan. Meskipun ekonomi tumbuh, belum semua sektor mampu membuka cukup ruang kerja. Beberapa industri besar, seperti manufaktur dan ekspor, masih tertekan oleh ketidakpastian global, gejolak harga komoditas, hingga penurunan permintaan dari negara mitra dagang.

Kedua, ada perubahan struktur dalam dunia kerja. Era digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi tidak hanya melahirkan jenis pekerjaan baru, tetapi juga menghilangkan banyak jenis pekerjaan lama. Perusahaan yang dahulu memerlukan puluhan pegawai kini cukup dengan sistem daring dan perangkat lunak. Sektor-sektor tradisional — terutama yang bersandar pada tenaga kasar atau keterampilan dasar — menjadi korban pertama dari efisiensi ini.

Ketiga, setiap tahun jutaan lulusan baru dari SMA, SMK, hingga perguruan tinggi masuk ke pasar tenaga kerja. Sayangnya, banyak dari mereka belum memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan industri. Ini menciptakan jurang antara penawaran dan permintaan — tenaga kerja tersedia, tetapi belum tepat guna.

Fakta menarik lainnya: tingkat pengangguran justru lebih tinggi pada lulusan menengah atas dan perguruan tinggi dibandingkan lulusan SD. Mereka yang menempuh pendidikan lebih tinggi justru menghadapi kesulitan lebih besar dalam mendapatkan pekerjaan tetap. Banyak dari mereka akhirnya masuk ke sektor informal atau menjadi pekerja serabutan — situasi yang seringkali tidak memberi jaminan penghasilan layak maupun perlindungan sosial.

Pemerintah tidak tinggal diam. Program Kartu Prakerja kembali diperkuat untuk memberi pelatihan dan insentif keterampilan. Insentif fiskal ditawarkan kepada industri padat karya. Ekosistem ekonomi digital dan UMKM juga terus didorong sebagai motor pencipta lapangan kerja baru. Namun, efektivitas semua program ini tergantung pada dua hal: kesesuaian dengan kebutuhan lapangan, dan pemerataan akses, terutama bagi masyarakat di luar pusat-pusat kota besar.

Meningkatnya angka pengangguran bukan hanya persoalan statistik. Ia adalah cerita tentang orang-orang yang tengah menunggu peluang, tentang harapan yang menggantung pada lowongan yang tak kunjung muncul. Di tengah tren optimisme makro, kabar ini menjadi pengingat: pertumbuhan tidak selalu merata, dan keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya tercermin dalam angka, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari mereka yang berada di tengahnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *