Manado, Makasiow.com – Dari lereng pegunungan Papua, suara perubahan datang dalam wujud yang tak terduga. Namanya Demianus Dike—seorang pria yang kini dikenal luas sebagai “Manusia Pembalut.” Julukan itu tak membuatnya gusar, bahkan ia sandang dengan bangga. Sebab di baliknya, ada tekad untuk mematahkan stigma lama yang menghalangi akses kesehatan ratusan remaja perempuan di tanah kelahirannya.
Demianus adalah penggerak utama Yayasan Noken Papua, sebuah organisasi akar rumput yang fokus pada isu-isu kesehatan dan pendidikan. Di tengah realitas pahit bahwa lebih dari 60 persen siswi Papua masih bolos sekolah saat menstruasi—karena minimnya akses pembalut, fasilitas sanitasi yang layak, serta stigma sosial—Demianus tampil dengan pendekatan yang sederhana namun berdampak besar: edukasi dan pembalut kain buatan tangan.
Ia hadir di ruang-ruang kelas, rumah-rumah ibadah, hingga balai kampung, membicarakan soal menstruasi. Topik yang dulu bisik-bisik kini didiskusikan terbuka, meski tak tanpa tantangan. “Awalnya banyak yang mengejek. Katanya laki-laki bicara soal ‘hal perempuan’. Tapi saya anggap ini perjuangan untuk hak dasar,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Tak hanya memberi penyuluhan, Demianus melatih siswa dan guru untuk menjadi Kader Kesehatan Remaja. Mereka ini bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga agen perubahan di komunitas. Salah satu program unggulannya adalah pelatihan membuat pembalut kain yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Murah, ramah lingkungan, dan yang paling penting: memberikan pilihan.
Dampaknya mulai terasa. Di beberapa sekolah mitra Yayasan Noken Papua, angka ketidakhadiran siswi saat haid mulai menurun. Diskusi tentang menstruasi tak lagi dianggap memalukan, dan para gadis kini memiliki akses terhadap pembalut yang layak.
Perjalanan Demianus bukan tanpa rintangan. Ia menghadapi cibiran, keterbatasan dana, hingga logistik yang sulit di daerah pedalaman. Namun dalam setiap langkahnya, ia menyimpan keyakinan yang sederhana namun kuat: bahwa kesehatan menstruasi bukan hanya isu perempuan, tetapi urusan kemanusiaan.
Demianus Dike bukan sekadar aktivis. Ia adalah cerminan dari wajah baru Papua—yang berani bicara, berani bertindak, dan tak takut menyentuh hal-hal yang selama ini dibungkam. Ia mungkin “Manusia Pembalut” dalam sebutan banyak orang, tapi sesungguhnya ia adalah pelita kecil di tengah sunyi, membawa terang ke masa depan generasi muda Papua.















