Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Gen Z dan Bayangan Perang Dunia III: Dari Meme Gelap hingga Kecemasan Nyata

Manado, Makasiow. com – Ketika ketegangan global meningkat—dari konflik Israel-Iran hingga perang di Ukraina satu generasi merespons dengan cara yang tak terduga. Gen Z, generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, tak lantas menyerukan wajib militer atau patriotisme konvensional. Sebaliknya, mereka merespons lewat meme, humor sarkastik, dan skeptisisme yang mengakar terhadap perang.

Tagar #WWIII sempat membanjiri lini masa X (dulu Twitter) saat krisis geopolitik memuncak. Namun alih-alih disertai seruan perang, platform itu justru dibanjiri guyonan absurd: dari tangkapan layar rekrutan yang menolak panggilan wajib militer, hingga meme sarkastik tentang pelatihan militer di game Call of Duty. Bagi Gen Z, inilah bentuk coping mechanism atas dunia yang kian tak pasti—humor sebagai bentuk ketakutan sekaligus perlawanan.

Namun di balik lelucon itu, ada kekhawatiran nyata. Survei di Inggris menunjukkan hanya sekitar 11–14 persen Gen Z yang rela mengikuti wajib militer jika terjadi Perang Dunia III, sementara 40 persen lainnya menyatakan akan menolak atau menghindar. Kekhawatiran akan “draft” atau panggilan perang menjadi bahan candaan, tapi juga cerminan ketidaksiapan mereka terhadap konflik bersenjata konvensional.

Lebih dalam, Gen Z tumbuh di tengah lanskap global yang penuh krisis: pandemi, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, hingga bayang-bayang perang. Mereka menyaksikan bagaimana dunia bisa berubah drastis hanya dalam hitungan bulan. Maka tak mengherankan jika pendekatan mereka terhadap konflik juga berbeda. Mereka cenderung menolak militerisme dan lebih percaya pada diplomasi, tekanan ekonomi, dan kebijakan luar negeri yang transparan.

Pandangan mereka terhadap senjata nuklir juga kontras dengan generasi sebelumnya. Dalam banyak survei, Gen Z menunjukkan penolakan terhadap narasi bahwa senjata pemusnah massal adalah alat keamanan. Sebaliknya, mereka menyoroti kurangnya edukasi publik dan transparansi dalam kebijakan pertahanan.

Namun tekanan mental itu nyata. Laporan kesehatan global menunjukkan peningkatan kecemasan di kalangan Gen Z terkait ketidakstabilan geopolitik. Sekitar 41 persen di antaranya merasa tertekan oleh perang Ukraina, dan sebagian besar menganggap ancaman Perang Dunia III bukan sekadar omong kosong dunia maya.

Pada akhirnya, respons Gen Z terhadap bayangan perang mencerminkan zaman yang serba paradoks. Di satu sisi, mereka membuat meme dari kecemasan. Di sisi lain, mereka sedang belajar hidup di dunia yang tidak pernah benar-benar damai. Dan mungkin, di tengah tawa sarkastik dan unggahan viral itu, terselip satu pesan penting: keinginan untuk dunia yang lebih waras, meski harapan itu disampaikan dalam bentuk stiker dan ironi digital.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *