Manado, Makasiow.com – Sulawesi Utara kembali menjadi sorotan geologi nasional. Dalam rentang waktu yang belum lama berselang, dua gunung api aktif di provinsi ini menunjukkan gejala berbeda namun sama-sama mengharuskan kewaspadaan publik: Gunung Ruang di Kepulauan Sitaro dan Gunung Soputan di Minahasa Tenggara.
Gunung Ruang, yang berada di tengah gugusan pulau kecil di Laut Maluku, mengalami erupsi eksplosif pada 17–18 April 2024. Statusnya pun melonjak dari Siaga (Level III) ke Awas (Level IV) hanya dalam hitungan jam. Kolom abu menjulang hingga 3.000 meter, memuntahkan batu pijar sejauh lima kilometer dari kawah. Sedikitnya 6.125 warga terpaksa mengungsi, dan ratusan bangunan mengalami kerusakan. Abu vulkanik tersebar luas, menjangkau kota-kota besar seperti Manado, Tomohon, Bitung, dan beberapa wilayah di Minahasa.
Di sisi lain, Gunung Soputan, yang menjulang di pegunungan Minahasa, masih menyimpan senyap dalam status Waspada (Level II). Meski secara visual tidak menunjukkan aktivitas mencolok, sensor PVMBG mencatat kegempaan tinggi, didominasi oleh gempa tektonik jauh serta sejumlah gempa vulkanik dalam dan dangkal. Kolom asap yang tipis di ketinggian 100 meter menyimpan kemungkinan guguran lava, piroklastik, hingga potensi lahar yang mengancam pemukiman di bantaran sungai.
Kepala PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) mengingatkan bahwa meskipun Gunung Ruang saat ini menunjukkan penurunan aktivitas, kewaspadaan tetap dijaga. Terutama terkait potensi tsunami akibat letusan bawah laut, karena kontur kepulauan yang rapuh terhadap gangguan geologis. Sementara itu, Gunung Soputan justru sedang memasuki fase pemantauan intensif mengingat potensi letusan yang bisa datang tanpa tanda visual mencolok.
BMKG turut memainkan peran penting dalam pengawasan, terutama pada tinggi muka laut serta penyebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu penerbangan sipil dan kesehatan warga. Sistem informasi cepat serta keterlibatan aktif Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai kota menjadi tulang punggung kesiapsiagaan.
Bagi warga, protokol kesiapan bencana tetap berlaku: menggunakan masker saat terjadi hujan abu, menghindari radius berbahaya di sekitar kawah, serta siaga terhadap kemungkinan lahar dingin yang meluncur di musim hujan. Jalur evakuasi dan komunikasi dengan relawan lokal menjadi kunci keselamatan warga di lereng dan pesisir.
Sulawesi Utara adalah laboratorium geologi aktif yang terus bergerak. Dua gunung yang sama-sama diam dan beringas ini bukan hanya pengingat tentang kekuatan alam, tetapi juga tentang pentingnya sains, mitigasi, dan solidaritas sosial di tengah bencana yang bisa datang sewaktu-waktu. Dalam tiap letusan dan gempa, terkandung isyarat alam yang tak bisa diabaikan—bahwa kesiapsiagaan bukan pilihan, melainkan kebutuhan yang terus diperbarui.















