Manado, Makasiow.com — Di apotek-apotek pinggiran kota hingga ruang praktik dokter di puskesmas pedesaan Sulawesi Utara, satu kalimat sering terdengar: “Antibiotik nda bole sembarang diminum.” Bagi sebagian orang, ini sekadar anjuran. Bagi dunia medis, ini alarm.
Di tengah akses informasi yang makin luas dan kecenderungan swamedikasi atau minum obat tanpa resep, penggunaan antibiotik menjadi isu yang serius. Apalagi di daerah dengan kultur kolektif seperti Sulut, di mana satu rekomendasi tetangga bisa lebih dipercaya daripada hasil diagnosis laboratorium.
Padahal, antibiotik bukan obat semua penyakit. Ia hanya efektif melawan infeksi akibat bakteri bukan virus. Flu, pilek, batuk ringan, dan demam dengue adalah penyakit yang disebabkan virus, yang berarti antibiotik tak akan bekerja di sana. Sebaliknya, mengonsumsi antibiotik saat tubuh tidak membutuhkannya justru membuka pintu bagi masalah yang jauh lebih besar: resistensi antibiotik.
Di beberapa negara, termasuk Indonesia, dokter kini menghadapi infeksi yang dulunya mudah disembuhkan namun kini menjadi lebih sulit dan lebih mahal diobati. Salah satu penyebab utamanya: bakteri yang kebal. Fenomena ini bukan sekadar statistik global melainkan realita lokal yang mulai dirasakan di rumah-rumah sakit daerah, termasuk di Tomohon, Bitung, hingga Bolaang Mongondow.
Tak hanya itu, antibiotik juga bisa mengganggu flora normal tubuh. Bakteri baik di usus bisa musnah, menyebabkan diare hingga infeksi jamur. Reaksi alergi berat dan kerusakan organ seperti hati atau ginjal juga bisa muncul jika obat dikonsumsi tanpa kontrol.
Mengapa ini harus menjadi perhatian semua kalangan dari ibu rumah tangga di Minahasa sampai pelajar di Tahuna? Karena setiap tindakan kita terhadap antibiotik akan menentukan apakah generasi berikutnya masih bisa mengandalkannya saat benar-benar dibutuhkan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyebut resistensi antibiotik sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan global. Jika tidak dikendalikan, dunia bisa kembali ke masa di mana operasi kecil atau infeksi tenggorokan bisa mematikan.
Solusinya? Sederhana, namun butuh komitmen bersama. Konsumsi antibiotik hanya jika diresepkan dokter. Habiskan obat sesuai dosis dan durasi. Jangan simpan sisa antibiotik untuk digunakan di kemudian hari. Dan yang paling penting, edukasi masyarakat agar tidak menjadikan antibiotik sebagai “obat sakti” semua penyakit.
Di Sulut, di mana semangat gotong royong dan kepercayaan antarwarga masih kental, edukasi ini bisa dimulai dari lingkaran kecil: keluarga, gereja, sekolah, hingga posyandu. Karena menjaga efektivitas antibiotik bukan hanya tugas rumah sakit atau apotek tapi tanggung jawab kolektif.
Antibiotik bukan musuh, tapi jika disalahgunakan, bisa menjadi bumerang. Maka, sekali lagi: jangan sembarang minum antibiotik. Karena menjaga satu butir obat hari ini, bisa menyelamatkan ribuan nyawa esok hari.















