Manado, Makasiow.com – Orang Sulawesi Utara barangkali sudah akrab dengan tanah yang bergetar tiba-tiba atau gunung yang mendadak menghembuskan abu. Dari Gunung Lokon di Tomohon, Soputan di Minahasa Tenggara, hingga Karangetang di Siau, semua menjadi pengingat bahwa wilayah ini berdiri di atas panggung besar bernama Cincin Api Pasifik.
Istilah Pacific Ring of Fire merujuk pada sabuk sepanjang 40 ribu kilometer yang mengitari Samudra Pasifik. Di dalamnya terkumpul 75 persen gunung api aktif dunia dan 90 persen gempa bumi besar tercatat berasal dari sini. Indonesia—termasuk Sulawesi Utara—berada tepat di jantung cincin itu, di persilangan tiga lempeng raksasa: Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik.
“Setiap kali bumi bergeser, kita diingatkan betapa kecilnya manusia dibanding kekuatan alam,” kata seorang geolog Universitas Sam Ratulangi.
Namun, jalur bencana ini bukan semata membawa ancaman. Abu vulkanik membuat tanah subur, menjadi lahan bagi perkebunan cengkeh dan pala yang harum namanya hingga mancanegara. Energi panas bumi di Minahasa dan Tompaso kini dikembangkan menjadi listrik bersih, menopang kebutuhan energi daerah. Bahkan panorama kawah, danau vulkanik, hingga pemandian air panas telah menjelma magnet wisata.
Di sisi lain, sejarah mencatat bencana besar yang lahir dari cincin ini: gempa dan tsunami Aceh 2004, gempa Palu 2018, hingga letusan dahsyat Gunung Pinatubo di Filipina. Semua memberi pelajaran bahwa hidup di atas cincin api menuntut kewaspadaan, kesiapan, dan sistem peringatan dini yang kuat.
Bagi masyarakat Sulawesi Utara, kesadaran itu perlahan tumbuh. Simulasi bencana di sekolah-sekolah, jalur evakuasi di desa pesisir, hingga penelitian di laboratorium geologi menjadi bagian dari ikhtiar bersama. Karena di balik ancaman, ada pula anugerah.
Hidup di atas Cincin Api Pasifik adalah seni menjaga keseimbangan: menerima gempa sebagai bagian dari realitas, namun juga merawat tanah yang subur, energi yang melimpah, dan alam yang indah. Sebuah paradoks yang setiap hari dihidupi masyarakat Sulut—antara rasa takut dan rasa syukur, antara waspada dan menikmati kehidupan yang terus bergerak.















