Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Pantai Paal Sejarah Belanda Aroma Ikan Bakar dan Senja Manado

Manado, Makasiow.com – Tak sampai seperempat jam dari pusat Kota Manado, ada sebuah pesisir yang diam-diam menyimpan jejak panjang sejarah kota. Namanya Pantai Paal. Tidak berpasir putih seperti Likupang, tak pula sejernih Bunaken, tapi pantai ini tetap hidup, berdenyut dengan aktivitas nelayan, tawa anak-anak, dan aroma ikan bakar yang mengepul dari warung-warung pinggir laut.

Nama “Paal” konon berasal dari kata Belanda paal, yang berarti tiang. Pada masa kolonial, kawasan ini dipasang tonggak kayu sebagai penanda bagi kapal yang hendak masuk ke pelabuhan Manado. Tonggak itu hilang ditelan waktu, tapi nama Paal bertahan sebagai penanda wilayah.

Kini, Pantai Paal menjadi ruang publik bagi warga kota. Setiap sore, deretan kursi plastik dan meja sederhana dipenuhi keluarga yang datang bersantai. Di hadapan mereka, laut membentang dengan warna keemasan saat matahari tenggelam. Di sampingnya, para nelayan sibuk menurunkan hasil tangkapan hari itu, bercampur dengan riuh pengunjung yang menawar ikan segar untuk dibakar seketika.

Suasana di pantai ini jauh dari kesan eksotis ala brosur pariwisata. Air lautnya kerap keruh, terutama saat hujan. Reklamasi dan pembangunan pelabuhan kecil membuat garis pantai berubah. Namun di balik itu, ada daya tarik berbeda: keaslian kehidupan pesisir Manado yang jarang ditemui wisatawan di destinasi populer.

Kuliner menjadi magnet utama. Warung-warung sederhana menawarkan menu khas: ikan bakar rica, cumi goreng, hingga sup cakalang beraroma pedas. Es kelapa muda atau jus alpukat hadir sebagai penawar rasa. Semua terasa lebih akrab ketika disantap dengan hembusan angin laut.

Bagi warga Sulut, Pantai Paal bukan sekadar tempat makan atau bersantai. Ia adalah ruang perjumpaan antara sejarah kolonial yang samar, denyut ekonomi nelayan, dan budaya kuliner yang kental. Mungkin tak masuk daftar pantai terindah, tapi di sinilah Manado terasa paling dekat: sederhana, hangat, dan penuh rasa.

Pantai Paal mengingatkan bahwa pesisir bukan hanya tentang pasir putih dan air jernih, melainkan juga tentang kisah, manusia, dan cita rasa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *