Manado, Makasiow.com – Di tengah tren lembaga publik bertransformasi digital, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mengambil langkah tak biasa. Pada 26 Oktober 2025, publik dikejutkan dengan kemunculan Sena, karakter virtual bergaya anime yang diperkenalkan sebagai wajah baru komunikasi publik lembaga itu.
Sena hadir di kanal YouTube resmi DPD RI, memperkenalkan diri sebagai ASN digital berusia 21 tahun, lahir pada 1 Oktober 2004. Dalam video berdurasi tiga menit, ia menyapa penonton dengan suara ramah dan gaya ceria khas dunia VTuber — YouTuber virtual yang populer di kalangan generasi muda. “Halo, aku Sena dari Sekretariat Jenderal DPD RI,” katanya dalam tayangan debut yang langsung viral di media sosial.
Tujuan utamanya sederhana: mendekatkan DPD RI kepada publik, terutama generasi muda yang lebih banyak menghabiskan waktu di ruang digital. Melalui Sena, DPD berharap informasi tentang kegiatan senator daerah, kerja sama lembaga, dan berita kebijakan bisa disampaikan dengan cara yang lebih ringan, interaktif, dan relevan dengan tren komunikasi modern.
Namun, langkah inovatif itu tak datang tanpa sorotan. Di satu sisi, banyak yang mengapresiasi terobosan ini sebagai bentuk adaptasi birokrasi terhadap dunia digital yang kian maju. Beberapa warganet menyebutnya sebagai “langkah berani” yang menandakan kesediaan lembaga publik untuk bertransformasi.
Di sisi lain, kritik deras juga muncul. Warganet mempertanyakan penggunaan anggaran publik untuk proyek semacam ini dan menyoroti desain karakter Sena yang dianggap “kurang mencerminkan lembaga negara”. Sebagian lagi mencurigai bahwa karakter itu mungkin menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI), meski pihak DPD RI menyebut Sena dikendalikan oleh tim manusia di balik layar.
Sorotan terbesar datang dari aspek transparansi dan efektivitas. Sejumlah pengamat menilai, keberadaan karakter digital seperti Sena baru bisa disebut berhasil jika benar-benar meningkatkan pemahaman publik tentang fungsi dan peran DPD RI, bukan sekadar menjadi sensasi sesaat di dunia maya.
Namun di luar kontroversinya, Sena menunjukkan bagaimana birokrasi Indonesia mulai bereksperimen dengan format komunikasi baru. Dalam era di mana warganet lebih sering menonton YouTube daripada mengikuti sidang parlemen di televisi, figur virtual seperti ini mungkin menjadi jembatan baru antara lembaga dan rakyat.
Apakah Sena akan menjadi wajah masa depan komunikasi politik Indonesia, atau hanya episode singkat dalam sejarah digital birokrasi, waktu yang akan menjawab. Yang jelas, untuk pertama kalinya, lembaga tinggi negara punya influencer virtual sendiri — dan seluruh negeri sedang menonton.















