Manado, Makasiow.com – Aksi sopir mikrolet di Manado kembali mencuatkan ketegangan lama dalam dunia transportasi kota. Di sepanjang Boulevard, deretan mikrolet berhenti. Sopir berkumpul. Spanduk diangkat. Mereka menolak kehadiran Trans Manado yang mulai beroperasi dengan skema layanan baru. Di sisi lain, pemerintah berharap layanan bus ini menjadi langkah pembenahan transportasi massal.
Demo muncul karena sopir merasa kehilangan ruang hidup. Mereka melihat penumpang pindah ke bus baru yang menawarkan tarif lebih murah dan gratis pada masa awal pengoperasian. Beberapa sopir mengatakan pendapatan harian turun tajam sejak uji coba bus dimulai. Banyak rute yang dulu padat kini sepi.
Aksi itu membuat arus lalu lintas di pusat kota terhambat. Pengguna jalan memutar arah. Bus Trans Manado sempat berhenti beroperasi sementara. Beberapa sopir mikrolet mencegat bus di titik tertentu untuk meminta perhatian. Ketegangan terjadi di lapangan, namun berjalan tanpa insiden besar.
Pemerintah daerah menyatakan sedang mencari cara agar transisi menuju transportasi publik modern tidak mengorbankan mata pencaharian sopir mikrolet. Pembicaraan antara pihak pemerintah dan perwakilan sopir disebut masih berlangsung. Blueprint integrasi layanan angkutan lama dan baru terus dibahas. Namun hasilnya belum terlihat jelas.
Situasi ini memperlihatkan tantangan besar dalam membangun sistem transportasi perkotaan di kota berkembang. Modernisasi transportasi membutuhkan penataan. Sementara ribuan sopir mikrolet menggantungkan hidup pada trayek yang sama selama puluhan tahun. Konflik keduanya mudah muncul ketika perubahan berjalan cepat tanpa ruang adaptasi.
Di lapangan, ritme jalan berubah. Bus baru melintas dengan sistem terjadwal. Mikrolet melaju dengan pola lama. Warga menunggu keputusan yang dapat menjaga keberlanjutan transportasi kota dan memastikan para pengemudi tidak tersisih dari perubahan yang sedang berjalan.















