Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Perjalanan Kota yang Lebih Ringan di Jalanan: Mengapa Warga Mulai Kembali ke Angkutan Umum

Manado, Makasiow.com – Di banyak kota besar, pilihan warga untuk beralih ke angkutan umum membawa perubahan nyata. Pergeseran itu tidak hanya mengubah cara orang bergerak. Ia ikut mempengaruhi udara, biaya hidup, dan wajah jalanan. Data dari berbagai lembaga memperlihatkan bahwa keputusan sehari hari untuk naik bus atau moda massal lain berpengaruh jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

Transportasi umum menghasilkan emisi yang lebih rendah dibanding mobil pribadi. ITDP mencatat bahwa jejak karbon per penumpang bisa turun sekitar 30 sampai 60 persen. Angka itu membuat angkutan umum menjadi salah satu instrumen penting bagi kota yang ingin menurunkan emisi tanpa menunggu teknologi baru.

Di sisi lain, kepadatan jalan menunjukkan hubungan langsung antara pilihan kendaraan dan kelancaran lalu lintas. Kementerian Perhubungan menyebut sekitar 70 persen kendaraan di kota besar hanya berisi satu orang. Simulasi menunjukkan bahwa bila 10 persen pengguna mobil berpindah ke angkutan umum, volume lalu lintas dapat menurun sampai 20 persen. Dampaknya tampak pada waktu tempuh, konsumsi BBM, dan kualitas udara.

Perubahan itu juga terasa di dompet rumah tangga. BPS menemukan bahwa keluarga yang memakai angkutan umum secara rutin mengurangi pengeluaran transportasi hingga 15 sampai 25 persen. Tekanan biaya perjalanan yang selama ini membebani kelompok pekerja berkurang. Banyak keluarga menggunakan selisih anggaran untuk kebutuhan lain.

Konsumsi energi ikut terpengaruh. Sektor transportasi memakai lebih dari 40 persen total BBM nasional menurut data Pertamina. Kota yang memperkuat jaringan angkutan massal bisa menekan konsumsi jutaan liter BBM dalam setahun. Langkah itu membantu mengurangi impor energi dan mengurangi risiko guncangan harga.

Akses kerja menjadi aspek lain yang berubah ketika jaringan transportasi umum membaik. Studi World Bank menunjukkan bahwa pekerja bisa menjangkau hingga 30 persen lebih banyak peluang kerja dengan waktu perjalanan di bawah satu jam. Konektivitas kota menjadi lebih adil bagi warga yang bergantung pada mobilitas harian.

Keselamatan lalu lintas juga ikut terdorong. Lebih dari 60 persen kecelakaan di jalan melibatkan sepeda motor berdasarkan data Polri. Perjalanan dengan angkutan umum memiliki risiko lebih rendah. Kota yang memperluas layanan massal melihat penurunan angka insiden di beberapa koridor.

Di tengah perubahan itu, kota kota Indonesia berada dalam momentum penting. Warga mencari moda bepergian yang lebih efisien. Pemerintah mendorong layanan yang terjangkau dan aman. Angkutan umum menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan mobilitas dan dorongan untuk hidup lebih hemat, lebih aman, dan lebih bersih.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *