Manado, Makasiow.com — Pada awal Juli setiap tahun, Bumi mencapai titik terjauhnya dari Matahari dalam orbit tahunannya—peristiwa ini disebut aphelion. Tahun ini, momen tersebut diperkirakan akan jatuh pada 4 Juli 2025, ketika jarak antara Bumi dan Matahari menyentuh sekitar 152,1 juta kilometer. Sebuah angka yang mungkin terdengar mengkhawatirkan bagi sebagian orang, terutama jika dikaitkan dengan suhu dan musim. Tapi seperti banyak hal di langit, fenomena ini lebih memukau secara sains daripada berdampak langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Orbit Bumi bukanlah lingkaran sempurna, melainkan elips. Karena itu, ada dua titik penting dalam perjalanannya: perihelion (titik terdekat dengan Matahari yang biasanya terjadi pada awal Januari) dan aphelion (titik terjauh pada awal Juli). Meski terjadi perbedaan jarak sekitar 5 juta kilometer antara keduanya, pengaruhnya terhadap suhu dan cuaca di permukaan Bumi bisa dikatakan tidak terasa.
“Musim di Bumi ditentukan oleh kemiringan poros rotasinya sebesar 23,5 derajat, bukan jarak ke Matahari,” jelas peneliti astronomi dari Lapan, dalam wawancara terdahulu. Artinya, meskipun di bulan Juli Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, belahan Bumi utara tetap mengalami musim panas karena orientasi kemiringan yang menghadap Matahari. Sebaliknya, belahan Bumi selatan termasuk sebagian besar wilayah Indonesia seperti Sulut—berada dalam kondisi relatif lebih sejuk, namun bukan karena efek aphelion secara langsung.
Di dunia astronomi, aphelion adalah momen yang dicermati bukan untuk iklim, tetapi untuk observasi. Saat itulah intensitas sinar Matahari sedikit menurun, sekitar 7 persen, yang bisa memengaruhi ketelitian instrumen pengamatan atau jadwal pemotretan langit malam. Bagi masyarakat awam, perbedaannya hanya bisa dirasakan oleh teleskop dengan filter khusus: ukuran cakram Matahari terlihat sedikit lebih kecil dibanding saat perihelion.
Namun, jangan berharap melihat Matahari mengecil atau sinarnya meredup hanya dengan mata telanjang. “Perbedaan ukuran visualnya hanya sekitar 3 persen,” kata seorang astronom amatir di Tomohon, “dan itu sama sekali tak bisa kita bedakan tanpa alat bantu.”
Lantas, apakah aphelion membahayakan? Jawabannya: tidak. Tidak ada risiko gelap mendadak, tidak ada perubahan cuaca ekstrem karena aphelion. Bahkan para petani pun tidak perlu mengatur ulang jadwal tanam. Secara praktis, kehidupan berjalan seperti biasa. Tetapi bagi pengamat langit, aphelion menjadi pengingat bahwa Bumi terus bergerak dalam keteraturan kosmis, mengikuti jejak orbitnya selama miliaran tahun.
“Ini bukan soal dampaknya,” ujar salah satu guru fisika di Manado. “Tapi soal kesadaran kita bahwa bahkan perbedaan lima juta kilometer pun bisa terjadi secara rutin tanpa kita sadari dan tetap membawa keajaiban tersendiri.”
Di tengah gempuran isu panas global dan musim yang makin tak menentu, aphelion datang sebagai peristiwa langit yang sederhana, tenang, dan nyaris tak terasa namun tetap memesona. Sebuah penanda bahwa semesta tetap setia pada polanya, bahkan saat kita di Bumi terus berubah.















