Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Bahasa Daerah Bertahan di Sulut: Ketika Identitas Budaya Tak Sekadar Warisan

Manado, Makasiow.com – Di tengah arus globalisasi dan dominasi bahasa nasional, Sulawesi Utara muncul sebagai anomali yang membanggakan. Provinsi ini menjadi yang tertinggi di Indonesia dalam hal penggunaan bahasa daerah, dengan 91,8% penduduknya masih aktif menuturkan bahasa lokal dalam percakapan sehari-hari. Angka ini menempatkan Sulut di posisi teratas menurut laporan GoodStats bertajuk “Provinsi Paling Banyak Pengguna Bahasa Daerah.”

Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan cermin kuatnya keterikatan warga Sulut terhadap akar budaya dan identitas kolektif mereka. Di tanah Minahasa dan sekitarnya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium ekspresi jiwa, nilai, bahkan humor lokal yang tak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sulawesi Utara sendiri memiliki setidaknya 10 bahasa daerah aktif yang dituturkan lintas generasi. Mulai dari Bahasa Tombulu, Tontemboan, Tonsea, hingga Bahasa Sangihe dan Talaud, masing-masing memiliki struktur, aksen, dan kosakata khas yang terus hidup melalui percakapan di rumah, pasar, dan gereja, juga dalam pertunjukan budaya dan media sosial.

Secara nasional, sekitar 59% warga Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, angka itu mengalami penurunan di beberapa wilayah akibat urbanisasi, homogenisasi media, dan kurangnya regenerasi penutur muda. Di sinilah Sulut menunjukkan resistensinya.

“Saya dan anak-anak di rumah tetap pakai Bahasa Tondano,” kata Yulia Mandagi, seorang guru di Tomohon. “Itu cara kami menjaga hubungan dengan leluhur—dan, tentu saja, agar anak-anak tahu siapa mereka.”

Kekuatan budaya lokal di Sulut juga didorong oleh ekosistem sosial yang masih berbasis komunitas. Dalam keseharian, bahasa daerah menjadi penanda kedekatan sosial. Bertemu di warung kopi atau ibadah Minggu, orang-orang lebih akrab menyapa dengan logat kampung halaman.

Tak hanya itu, upaya revitalisasi bahasa daerah juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi dan pemerintah daerah. Sekolah-sekolah di Sulut, misalnya, mulai mengintegrasikan pelajaran bahasa daerah sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal. Di media sosial, konten berbahasa daerah juga tumbuh, mulai dari sketsa humor Minahasa hingga ceramah keagamaan dalam dialek lokal.

Namun di luar angka-angka, yang dipertaruhkan adalah kelestarian cara berpikir dan cara merasa yang khas. Karena, seperti yang dikatakan oleh sastrawan Pramoedya Ananta Toer, bahasa adalah rumah bagi kebudayaan.

Maka, ketika 91,8% warga Sulawesi Utara memilih tetap berbicara dalam bahasa daerah mereka, sejatinya mereka sedang menjaga lebih dari sekadar kata-kata. Mereka sedang menjaga jati diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *