Manado, Makasiow.com — Aroma kopi dari Panama dan Indonesia menguar hangat di panggung kompetisi World Brewers Cup 2025. Di tengah suasana penuh ketegangan dan keterampilan tingkat tinggi di Jakarta International Convention Center, Sabtu, (17/5) lalu, nama Bayu Prawiro menggema sebagai barista terbaik kedua dunia.
Tak hanya soal rasa, Bayu memikat para juri dan penonton dengan pendekatan unik yang menyatukan dua gairah hidupnya: kopi dan fotografi. Di hadapan publik internasional, ia membawakan kopi layaknya seorang fotografer menyusun komposisi visual: dengan ketepatan, kepekaan, dan rasa.
Dengan racikan blend tiga jenis kopi 70% Washed Geisha dari Finca Sophia (Panama), 20% Anaerobic Natural Geisha dari Janson Estate (Panama), dan 10% Arabica-Mossto Anaerobic Natural Excelsa dari Sukawangi (Indonesia) Bayu berhasil menyuguhkan harmoni rasa yang disebut juri “memikat sekaligus cerdas secara sensorik”.
“Komposisi ini seperti lensa kamera,” ujarnya dalam presentasi. “Keseimbangan antara keasaman, manis, dan aftertaste yang panjang, seperti frame yang tak pernah kabur.”
Perjalanan Bayu menuju panggung dunia bukan tanpa liku. Lulusan jurusan seni visual ini semula dikenal sebagai fotografer. Namun, dalam perjalanannya mengenal dunia kopi, ia menemukan bahwa menyeduh kopi pun merupakan seni, dengan narasi rasa yang bisa disampaikan melalui gelas, bukan hanya gambar. Transformasi karier itu kini membawanya sebagai duta rasa Indonesia di forum paling bergengsi bagi para penyeduh kopi manual.
Bayu meraih skor 510, hanya terpaut tipis dari peringkat pertama asal Jepang. Ia mengungguli Carlos Escobar dari Kolombia yang menempati posisi ketiga. Tahun ini, pencapaian Bayu juga meneruskan tradisi kuat barista Indonesia, menyusul Ryan Wibawa yang tahun lalu meraih posisi ketiga di Chicago.
Lebih dari sekadar kompetisi, World Brewers Cup menjadi arena diplomasi rasa dan inovasi. Kehadiran Bayu di podium, dengan kopi Indonesia sebagai bagian dari komposisinya, menjadi simbol bahwa cita rasa lokal mampu menembus panggung global dengan kualitas dan kreativitas.
“Ini bukan hanya tentang siapa yang terbaik, tapi siapa yang bisa bercerita melalui cangkir kopi,” kata Bayu. Dan dalam ceritanya, Indonesia turut hadir sebagai narasi yang tak hanya harum, tetapi juga kuat dan membanggakan.
Bagi yang ingin menyaksikan langsung kisahnya, video presentasi Bayu Prawiro dapat diakses melalui YouTube World Brewers Cup 2025. Sebuah bukti bahwa di tangan barista seperti Bayu, kopi Indonesia bukan lagi sekadar minuman pagi, tapi seni yang melintasi batas-batas dunia.















