Manado, Makasiow – Di ruang-ruang keluarga Indonesia, banyak kursi makan yang tak lagi penuh. Sosok ayah yang dulu jadi figur pelindung dan panutan kini kerap hanya hadir lewat kiriman uang, suara telepon, atau sekadar nama di kartu keluarga. Fenomena ini disebut fatherless, istilah yang belakangan makin sering dibicarakan dalam diskusi publik, seminar parenting, hingga forum kebijakan negara.
“Fatherless” bukan semata ketiadaan fisik seorang ayah, tetapi absennya peran ayah secara emosional dan sosial dalam pengasuhan anak. Di banyak rumah tangga, ayah masih hidup, masih bekerja, namun jarang benar-benar hadir. Ia pulang larut malam, terlalu lelah untuk bercengkerama dengan anaknya, dan pagi hari sudah berangkat lagi sebelum anak bangun.
Data dari ANTARA News menyebut sekitar 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa keterlibatan aktif ayah. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia dalam kategori fatherless country. Hanya sekitar 37 persen anak usia dini yang tumbuh bersama kedua orang tua kandung di rumah yang sama.
Fenomena ini tidak lepas dari budaya patriarki yang menempatkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sementara urusan rumah dan pengasuhan dianggap ranah ibu. “Padahal, kehadiran ayah punya pengaruh besar terhadap pembentukan karakter anak,” kata seorang psikolog dari Universitas Gadjah Mada seperti dikutip Kompas.
Kondisi fatherless muncul dalam berbagai bentuk. Ada ayah yang pergi bekerja jauh ke luar kota atau luar negeri. Ada pula yang secara emosional absen karena terjebak rutinitas kerja dan tekanan ekonomi. Sebagian lainnya tak hadir karena perceraian, sakit, bahkan kematian.
Dampaknya tidak sederhana. Penelitian menunjukkan anak tanpa figur ayah berisiko mengalami gangguan kepercayaan diri, kesulitan sosial, hingga penurunan prestasi akademik. Dalam jangka panjang, ketidakhadiran ayah juga bisa memicu masalah sosial dari kenakalan remaja hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Pemerintah mulai memberi perhatian lebih. BKKBN misalnya, meluncurkan program yang mendorong peran ayah dalam pengasuhan, bagian dari strategi penguatan ketahanan keluarga. Namun di tengah gempuran ekonomi dan budaya kerja modern, peran ayah masih kerap dikorbankan demi “tanggung jawab nafkah”.
Fenomena fatherless mengingatkan kita bahwa hadir tidak selalu berarti ada. Dalam dunia yang semakin sibuk dan serba digital, kehadiran seorang ayah sekadar mendengar cerita anak, menemani belajar, atau mengucap selamat malam mungkin adalah bentuk cinta paling sederhana, tapi juga yang paling dirindukan.















