Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

IHSG Anjlok Usai Lebaran: Alarm Kepercayaan Pasar yang Tersendat

Manado, Makasiow.com – Di tengah euforia pasca-Lebaran, pasar modal Indonesia justru membuka pekan dengan catatan kelam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia tercatat anjlok hingga 9,19 persen pada pembukaan perdagangan 8 April 2025, memaksa otoritas bursa menerapkan mekanisme penghentian sementara atau trading halt. Kejatuhan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam sejarah bursa setelah masa libur panjang, dan segera memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar.

Penyebab utama kemerosotan ini berasal dari luar negeri. Kebijakan tarif dagang terbaru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa hari sebelumnya, langsung menebar sentimen negatif ke seluruh pasar global. Tarif tambahan terhadap produk ekspor dari negara-negara seperti Indonesia memicu kecemasan atas meningkatnya tensi perang dagang, yang secara historis kerap menciptakan gejolak pada pasar keuangan.

Reaksi investor lokal pun berlangsung cepat dan tajam. Ketika bursa dibuka kembali setelah jeda panjang Lebaran, aksi jual massif langsung terjadi. Dari lebih dari 800 saham yang diperdagangkan, sebanyak 552 saham mengalami penurunan, sementara hanya segelintir saham yang masih mampu bertahan di zona hijau. Banyak investor domestik memilih untuk keluar dari pasar sementara waktu, menunggu stabilitas sebelum kembali masuk.

Bursa Efek Indonesia segera merespons dengan langkah teknis. Selain trading halt, otoritas juga menyesuaikan batas auto reject bawah serta memperlonggar batas fluktuasi harga guna menjaga likuiditas dan mencegah kepanikan yang lebih dalam. Namun bagi banyak analis, langkah tersebut hanya efektif dalam jangka pendek. Yang dibutuhkan kini adalah sinyal kebijakan yang lebih solid dan terkoordinasi, baik dari pemerintah maupun otoritas moneter.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada menilai kejadian ini sebagai sinyal serius menurunnya kepercayaan pasar. Penurunan IHSG dianggap tidak hanya cerminan dari tekanan eksternal, tetapi juga kegagalan domestik dalam merespons kondisi global dengan cepat dan tepat. Dalam konteks ini, ketidakpastian arah kebijakan dan lemahnya komunikasi pemerintah menjadi salah satu sorotan utama.

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa kebanyakan investor kembali dari masa libur tanpa cukup kejelasan mengenai langkah stabilisasi ekonomi. Ketiadaan intervensi fiskal yang konkret selama libur, ditambah absennya pernyataan resmi sebelum pembukaan pasar, turut memperparah kepanikan.

Meski IHSG sempat pulih sebagian menjelang siang dan penurunan berkurang menjadi 8 persen, dampak psikologisnya telah menancap kuat. Tidak sedikit yang membandingkannya dengan kejadian krisis keuangan sebelumnya, meski skalanya belum setara. Namun satu hal pasti: kepercayaan pasar sedang goyah.

Dalam kondisi seperti ini, kecepatan dan kejelasan menjadi kunci. Pemerintah dan Bank Indonesia dituntut untuk bergerak cepat: memperkuat rupiah, menjaga daya beli, dan meyakinkan publik bahwa kondisi ekonomi tetap terkendali. Jika tidak, penurunan di pasar modal bisa merembet ke sektor riil, mengganggu investasi, dan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.

IHSG memang dikenal fluktuatif, namun 9 persen dalam sehari adalah sinyal keras. Ia berbicara bukan hanya tentang saham, tetapi juga tentang persepsi publik terhadap arah ekonomi negara. Dan dalam dunia yang makin terhubung, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya jauh melampaui angka di papan bursa. Pemerintah harus segera merespons—dengan strategi, bukan sekadar narasi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *