Manado, Makasiow.com – Di tengah lanskap hutan berkabut dan padang rumput alpin Papua, seekor makhluk berduri yang nyaris mistis menampakkan diri. Nokdiakatau yang dikenal secara ilmiah sebagai Zaglossus, satu dari sedikit mamalia di dunia yang bertelur baru-baru ini terekam kamera untuk pertama kalinya dalam lebih dari enam dekade.
Nokdiak bukan nama asing bagi masyarakat adat Papua. Satwa ini, dalam budaya lokal, kerap dipandang sebagai hewan keramat. Namun bagi dunia ilmiah, ia merupakan “fosil hidup”, saksi evolusi purba yang masih bertahan sejak era dinosaurus.
Di antara spesies nokdiak, yang paling menghebohkan adalah Zaglossus attenboroughi, atau lebih akrab disebut Nokdiak moncong-panjang ‘Attenborough’. Dulu dianggap punah, spesies ini terekam 110 kali oleh kamera jebak pada tahun 2023 di Pegunungan Cyclops, Papua. Penemuan ini mengubah peta konservasi dan menjadi titik balik upaya penyelamatan spesies langka di Indonesia.
Selain Attenborough, dua spesies lain juga mengisi daftar satwa endemik penting: Zaglossus bruijni yang hidup di ketinggian 1.300–4.000 meter di Papua Barat, serta Zaglossus bartoni yang lebih banyak ditemukan di wilayah Papua Nugini. Semua tergolong kritis menurut IUCN, terancam oleh rusaknya habitat, perburuan liar, serta tekanan dari pembukaan lahan.
Yang menarik, ekidna atau nokdiak bukan sekadar satwa aneh karena bertelur. Ia memiliki sistem sensorik canggih pada moncongnya, mampu mendeteksi getaran mikro di dalam tanah untuk mencari cacing dan serangga. Bobotnya bisa mencapai 16 kilogram, tubuhnya dilapisi duri halus seperti rambut, dan ia berjalan lambat di lereng curam pegunungan.
Meski eksistensinya kembali ditemukan, nokdiak masih diselubungi ancaman. Perburuan untuk konsumsi dan kepercayaan tradisional masih berlangsung di beberapa wilayah. Sementara itu, hutan-hutan primer tempatnya hidup terus menyusut akibat pembalakan dan pertambangan.
Namun harapan belum padam. Kolaborasi antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua dan peneliti internasional, termasuk dari Universitas Oxford, telah mendorong pendekatan baru: menggabungkan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal. Di lapangan, masyarakat adat kini dilibatkan sebagai penjaga hutan dan pengumpul data spesies.
Bagi Indonesia, nokdiak tak hanya soal satwa eksotis. Ia adalah cerminan pentingnya menjaga keragaman hayati dalam bentang alam yang rentan. Dalam dunia yang makin seragam, kemunculan satu ekidna di belantara Papua menjadi pengingat akan keajaiban yang masih tersisa dan tanggung jawab besar untuk memastikan ia tidak hanya menjadi cerita terakhir dari masa silam.















