Manado, Makasiow.com – Dalam gelas kaca bening di sebuah kafe kekinian di Sario, segelas minuman hijau pekat perlahan diaduk. Warna hijaunya mencolok, menyerupai daun segar setelah hujan. Di atasnya, busa tipis membentuk lingkaran kecil menyimpan aroma tanah basah dan kesan tenang yang tak dimiliki kopi. Nama minuman itu: matcha latte. Tak lagi eksklusif di Kyoto, kini matcha merambah meja-meja kaum muda Manado dan Tomohon, bahkan jadi tren di berbagai penjuru Sulawesi Utara.
Matcha, bubuk teh hijau dari daun Camellia sinensis yang digiling halus, bukan sekadar tren. Ia lahir dari tradisi Jepang berabad-abad lalu, namun diterima hangat oleh generasi Gen-Z dan milenial karena dua hal: estetik dan sehat. Tak seperti teh biasa yang hanya diseduh, matcha dikonsumsi utuh menjadikannya padat nutrisi, tinggi antioksidan, dan kaya manfaat untuk tubuh.
Daun-daun teh matcha dipanen dengan cara istimewa. Tiga hingga empat minggu sebelum panen, tanaman ini ditutup dari sinar matahari. Proses ini membuatnya lebih kaya klorofil dan asam amino L-theanine, zat yang memberi efek relaksasi tanpa kantuk. Setelah dikeringkan, daun digiling perlahan dengan batu granit, menghasilkan bubuk hijau terang yang dikenal sebagai matcha grade ceremonial jenis terbaik untuk dikonsumsi sebagai minuman.
Di balik keindahan tampilannya, matcha menyimpan manfaat ilmiah. Kandungan EGCG (epigallocatechin gallate) sebagai antioksidan mampu menangkal radikal bebas. Kombinasi L-theanine dan kafein membuat pikiran tenang tapi tetap fokus berbeda dengan efek kopi yang cenderung meledak dan lalu menurun drastis. Tak heran jika matcha mulai digandrungi para pelajar dan pekerja kreatif Manado yang mengejar produktivitas tanpa gelisah.
Namun, tak semua matcha diciptakan setara. Untuk diseduh sebagai minuman, para ahli gizi menyarankan memilih matcha dengan label ceremonial grade lebih lembut dan tidak pahit. Air yang digunakan pun tidak boleh terlalu panas. Suhu idealnya berkisar antara 70–80 derajat Celsius, cukup untuk mengeluarkan rasa alami tanpa membuatnya getir.
Di Sulawesi Utara, popularitas matcha terus menanjak. Kafe-kafe di Megamas, Tikala, hingga kawasan Boulevard mulai berlomba-lomba menghadirkan varian matcha dari matcha latte, smoothie, mochi, hingga es krim. Di balik tampilannya yang Instagrammable, matcha juga menawarkan nilai kesehatan yang relevan bagi masyarakat urban Sulut yang makin sadar akan pentingnya pola hidup seimbang.
Bagi masyarakat yang terbiasa dengan kopi lokal dan teh manis, matcha mungkin terasa asing di awal. Namun perubahan gaya hidup kerap dimulai dari rasa ingin tahu. Dan dari sebuah gelas kecil berisi bubuk hijau itu, warga Sulawesi Utara mulai membuka lembaran baru dalam budaya minum mereka lebih sadar, lebih sehat, dan tetap nikmat.
Apakah ini sekadar tren? Atau awal dari gaya hidup baru di bawah naungan warna hijau cerah yang memikat? Mungkin hanya waktu yang tahu. Tapi untuk saat ini, satu hal pasti: di antara aroma kopi dan hiruk-pikuk kota, matcha telah menemukan tempatnya.















