Connect with us

Hi, what are you looking for?

Artikel

Thanksgiving Minahasa: Syukur, Budaya, dan Sukacita dari Tanah Utara

Manado, Makasiow.com – Kala angin Agustus mulai menghembuskan hawa sejuk dari pegunungan Tondano, warga Minahasa bersiap menggelar perayaan yang lebih dari sekadar tradisi: Hari Raya Syukur, atau Thanksgiving versi tanah utara. Bukan hanya pesta makan dan doa bersama, ini adalah momentum sakral sekaligus kultural yang menyatukan iman dan identitas leluhur dalam satu helaan sukacita.

Setiap tahun, biasanya antara Agustus hingga September, gereja-gereja Protestan di Tomohon, Tondano, Minahasa, hingga Manado mulai menghias altar mereka dengan hasil bumi dan bunga krisan. Warga berdatangan dengan pakaian adat waleke, sarung tenun, dan kebaya berenda. Di sepanjang lorong kampung, aroma ayam woku dan tinutuan menyeruak, tanda bahwa syukur bukan hanya dilantunkan dalam doa, tapi juga dihidupkan lewat dapur.

Tradisi ini, meski terdengar akrab dengan “Thanksgiving” di Amerika, memiliki napas berbeda. Di Minahasa, syukur tidak hanya untuk panen, tapi juga untuk hidup yang diberi utuh: dari hujan yang menyuburkan tanah hingga anak-anak yang bertumbuh sehat. Pengaruh zending Belanda pada abad ke-19 memupuk benih tradisi ini dalam gereja-gereja Protestan, yang kemudian dirayakan secara kolektif dan kian meriah setiap tahun.

“Ini bukan soal makanan saja, tapi tentang kesadaran bahwa hidup ini hadiah,” kata Pdt. Martha Saerang, pelayan jemaat di Tondano. “Kita rayakan dengan iman, dengan budaya, dan dengan sukacita.”

Perayaan biasanya diawali dengan ibadah syukur di gereja, lengkap dengan nyanyian paduan suara dan pembacaan firman. Usai ibadah, warga turun ke jalan dalam pawai budaya. Tarian Maengket dimainkan oleh anak-anak sekolah, sementara ibu-ibu membagikan nasi kuning dan rica rodo kepada pengunjung. Ada pula pertunjukan musik bambu, dan kirab hasil panen yang diarak dalam keranjang anyaman di atas mobil hias.

Yang unik, meski bernuansa Kristen kuat, perayaan ini terbuka bagi siapa pun. Banyak pengunjung lintas agama menikmati suasana hangat dan inklusifnya. “Thanksgiving Minahasa ini bukan hanya seremoni gereja, tapi sudah jadi warisan budaya daerah,” ujar Denny Wowiling, budayawan asal Manado.

Berbeda dengan Thanksgiving Amerika yang dirayakan dengan kalkun dan libur nasional, Hari Raya Syukur Minahasa tidak menetapkan tanggal tetap. Setiap gereja bisa menentukan sendiri, sesuai jadwal liturgi dan kesiapan jemaat. Namun semangatnya satu: syukur dalam kebersamaan.

Tak sedikit pula wisatawan mancanegara memilih datang ke Sulut pada bulan-bulan ini. “Bukan cuma makanannya yang enak, tapi cara masyarakat menyambut tamu itu luar biasa hangat,” ujar Carla, turis asal Belanda yang mengaku terharu melihat pawai syukur di Tomohon.

Pemerintah daerah turut mendukung acara ini. Beberapa kabupaten bahkan menjadikannya agenda pariwisata tahunan. Dalam era digital sekarang, konten Thanksgiving Minahasa mulai ramai di media sosial, lengkap dengan tagar #HariRayaSyukur #MinahasaProud.

Hari Raya Syukur Minahasa adalah pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal besar. Kadang, cukup dari sepiring cakalang fufu, doa yang khusyuk, dan senyum tetangga yang tak pernah pelit berkata: “Torang bersyukur for Tuhan!”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *