Manado, Makasiow.com – Di atas pucuk pepohonan lembab yang menjulang di jantung hutan hujan Papua, seekor tupai mungil melompat cekatan dari cabang ke cabang, seolah menari di antara kabut dan bayang-bayang dedaunan. Di sinilah mereka tinggal tupai Papua, salah satu makhluk endemik yang turut menjaga denyut kehidupan ekosistem di pulau dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di Indonesia.
Meski tak sepopuler burung cendrawasih atau kanguru pohon yang memesona, tupai Papua justru menyimpan pesona dalam diam. Ukurannya mungil, sekitar 20 hingga 30 sentimeter termasuk ekor, dengan bulu cokelat kemerahan atau hitam dan garis samar di tubuhnya. Ekor panjang yang berbulu lebat jadi kemudi alami, membantu mereka bermanuver di ketinggian.
Tupai-tupai ini bukan sekadar penghuni hutan. Mereka adalah penjaga ekosistem yang tak banyak disorot. Saat memakan buah-buahan atau biji, tupai Papua menjatuhkan sisa makanan ke tanah secara tidak langsung menjadi agen penyebar benih, membantu regenerasi hutan tropis. Ia juga menjadi mata rantai dalam rantai makanan, disantap burung hantu, ular, hingga musang. Tupai, seperti hutan yang ditinggalinya, hidup dalam siklus yang saling bergantung.
Beragam spesies tupai hidup di Papua. Mulai dari Laurasiurus sordidus si tupai gunung dengan bulu gelap, hingga Sundasciurus rufoniger, si “tupai emas” dengan warna mencolok. Ada pula yang disebut “tupai kerdil” ukuran tubuhnya lebih kecil dari saudara-saudaranya, namun tak kalah lincah. Banyak dari spesies ini hanya bisa ditemukan di Papua dan sekitarnya menjadikannya harta karun biologi yang belum sepenuhnya dipetakan.
Hidup mereka lebih banyak tersembunyi di kanopi pohon. Mereka aktif di siang hari, soliter atau berpasangan, dan sangat jarang terlihat turun ke tanah. Di sanalah mereka berburu buah, kacang, dan serangga kecil. Beberapa warga yang tinggal di sekitar hutan mengenal kehadiran mereka dari suara-suara runcing di pepohonan semacam siulan samar yang menandakan interaksi antar tupai.
Meski belum dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi, keberadaan tupai Papua makin terancam. Penebangan liar, pembukaan lahan, dan perubahan iklim perlahan mengecilkan ruang hidup mereka. Beberapa spesies bahkan sudah jarang terlihat di daerah yang dulunya padat populasi. Di sejumlah tempat, mereka diburu entah untuk dikonsumsi atau dijual sebagai hewan peliharaan.
“Ketika tupai menghilang dari sebuah kawasan, itu pertanda bahwa ekosistem di sana mulai rusak,” kata seorang peneliti ekologi dari Papua, kepada Tempo. Tupai, katanya, adalah indikator alami dari kesehatan hutan.
Sayangnya, tak banyak riset atau kampanye konservasi yang secara khusus menyasar tupai Papua. Padahal, sebagai satwa endemik, keberadaannya layak mendapatkan perhatian. Masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan masih memegang kearifan lokal dalam menjaga keseimbangan. Tapi tantangan datang dari luar: pertambangan, proyek infrastruktur, dan konversi hutan menjadi perkebunan.
Dalam dunia konservasi, perhatian kerap tertuju pada hewan karismatik yang besar, langka, dan menawan. Tapi sesungguhnya, seperti tupai Papua, satwa-satwa kecil adalah simpul-simpul penting dalam jaring kehidupan hutan. Mereka tidak hanya berperan ekologis, tetapi juga bagian dari identitas biologis Papua yang kaya.
Pemerintah daerah dan lembaga konservasi kini ditantang untuk menata ulang prioritas perlindungan hayati. Perlindungan habitat hutan tropis secara keseluruhan adalah langkah paling nyata, bukan sekadar fokus pada spesies tertentu.















